Minggu, 07 September 2014

BAKSO??



SAYA TIDAK SUKA BAKSO. Mungkin terdengar aneh. Tapi memang begitu kenyataannya. Waktu kecil hingga kelas 2 SMK saya sangat sangat tidak menyukai bakso. Kenapa?? Kalo ditanya kenapa yaa saya bingung jawabnya. Awalnya sih saya biasa aja sama jenis makanan yang satu ini. Tapi suatu ketika saya mapir ke warung bakso sama ibu saya, saat itu saya masih duduk di bangku kelas 6 SD. Warung baksonya kecil, dan terkesan agak jorok. Saya coba makan bakso dicampur dengan sambal. Hanya beberapa sendok saja, karena saya tidak terlalu suka pedas. Alhasil begitu sampai rumah saya bolak-balik ke kamar mandi -___-

Terlebih ada salah satu program televisi yang menampilkan cara pembuatan bakso. JUJUR, SAYA BARU TAU CARA MEMBUAT BAKSO. Melihat warna adonan nya saja saya sudah geli. Ya, dengan cara dikepal dengan tangan, di buat menjadi bulat, lalu di cetak menggunakan sendok di tangan kanan, dan dikepal di tangan kiri. Yaa, tangan kiri. TANGAN KIRI!! NOOOOOOOOOO.....

Dan di sore hari saat saya nonton reportase investigasi, ada beberapa penjual bakso yang “nakal” dengan menambah daging tikus ke dalam adonan bakso. TIKUS!! Seketika saya langsung terbayang tempat bakso yang membuat saya sakit perut dan bolak-balik ke kamar mandi. Terlebih teknik membuat bakso yang membuat sedemikian sehingga...... SAYA SANGAT SANGAT SANGAT TIDAK MENYUKAI BAKSO. Dan sejak saat itu saya lupa rasa bakso itu kayak apa.

Kalo ditawarin atau diajak makan bakso, saya lebih memilih minum teh botol atau es campur. Tapi berlama-lama di warung bakso membuat perut saya mual.  Bahkan saya pernah muntah di warung bakso ._. kasihan abangnya. (maaaaff yaaa baaaangg....) walaupun saya yakin tidak semua penjual bakso yang melakukan hal ini, tapi tetap saja saya tidak suka.

Keanehan saya ini menjadi alasan teman-teman saya untuk meledek saya. Waktu SMK teman-teman saya sering mengajak saya untuk makan bakso. Karena hanya itu makanan enak yang murah, cukup lah sama kantong pelajar. Mau tidak mau saya harus ikut. Dengan hanya memesan mie ayam, makan secepat kilat dan buru-buru keluar dari tempat itu karena bau bakso yang menyengat membuat saya tidak tahan berlama-lama di tempat itu. 

Seperti yang saya pernah ceritakan sebelumnya tentang IWASHOCACI, kita sering kumpul di rumah salah satu teman, yaitu MAUDY GERALDINE (TITA nama samarannya), bisa dibilang rumah nya itu sudah seperti basecamp kita, hahaha.....

Karena sering main ke rumahnya, jadi nyokap nya maudy sering masak. Atau kalo lagi gak masak biasanya yaaaa...... PANGGIL TUKANG BAKSO. Alhasil saya digorengin telor. Tapi kalo terus-terusan kayak gini saya jadi gak enak. Ngerepotin.

Akhirnya saya memberanikan diir untuk ikut MAKAN BAKSO. Ya semua butuh proses. Pertama saya hanya pesan tahu dan kuahnya. Setelah sekian lama pesennya begitu terus, saya coba pesen bakso, tapi “baksonya satu aja ya bang” kebetulan yang saya coba pertama itu adalah bakso bakwan. Rasanya tidak begitu kental aroma dagingnya. Mulai dari situ saya mulai merasa... KOK ENAK YAA..
Hahaha... akhirnya saya jadi suka lagi sama kamu BAKSO. Setelah sekian lamaaaaaa.... maaf yaa aku udah buruk sangka sama kamu. Positif thinking aja deh, kalo yang kita makan itu halal, baik, sehat, dan jangan lupa baca Bismillah biar berkah buat kita dan abangnya.

Oke, sekian cerita saya tentang si bulat beserta teman-temannya, I LOVE BAKSO 

Senin, 01 September 2014

BANGKIT!

saat itu usiaku masih 18 tahun. Kondisiku juga sedang sakit. Semua ini berawal ketika temanku menawarkan bekerja di salah satu perusahaan, ya TIRAM namanya. Aku memang tidak berambisi untuk kuliah, yang aku fikirkan adalah bagaimana caranya aku bisa membantu kegiatan ekonomi keluargaku. Kuputuskan untuk membuat surat lamaran pekerjaan. Hari-hari berlalu, namun belum ada kepastian apakah aku diterima atau sebaliknya. Namun Allah Maha Pemurah, akhirnya aku ditelpon dan diterima kerja sebagai staff admin. Minggu-minggu pertama tak banyak yang aku kerjakan. Karena sistem administrasi yang masih kacau, aku berinisiatif untuk menjalankan kegiatan administrasi "versiku". Ya memang di TIRAM tidak banyak kesulitan yang aku hadapi. Namun, ada saja moment-moment dimana aku harus merasakan tekanan, nge-down, bahkan aku pernah berfikir untuk resign. Namun tiba-tiba semangat ku muncul kembali karena ada orang-orang yang selalu mendukung, memberi semangat, dan arahan kepadaku. Siapa lagi kalau bukan Pak Aput, Mas Adit, Fauzi, Mba Ira, Mas Kiki, Mas Wahyu, dan Mas Latief. Alhamdulillah, SAYA TIDAK SENDIRI. Saya sangat bersyukur bisa dipertemukan dengan mereka.
Namun perasaan "nge-down" itu hadir kembali ketika satu persatu diantara para penyemangat itu meninggalkan saya. Mas kiki, ya, dia terlebih dahulu resign dipenghujung tahun 2013. Kemudian disusul mba ira di awal tahun 2014. Dan yang membuat saya sangat kehilangan adalah sosok mas adit. Jika saya diberi permohonan tentunya saya ingin menahan mereka untuk tetap disini. Tapi apakah saya bisa menyalahkan takdir?
Belum hilang kerinduan saya tentang mereka, ujian itu kembali datang. Bukan dari sang penyemangat yang harus pergi, tapi dari saya. Iya betul, kini saya yang harus meninggalkan mereka. Meninggalkan tim-tim penyemangat yang tersisa dan "tempat kelahiran" saya (TIRAM). Saya di mutasi. DIMUTASI. Tepat dimana umur saya masih 8 bulan diTIRAM. Ini adalah titik terberat saya. Sangat berat. Bukan karena kerjaan, tapi lingkungan.

*to be continue...*