Selasa, 22 April 2014

JANGAN PERNAH BERHARAP MENCAPAI PUNCAK, BILA TIDAK BERSEDIA MENDAKI



Sekarang aku sedang menghadapi masalah seperti anak ABG pada umumnya, yaitu GALAU.
Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya ini terjadi. Ya, terjadi padaku.
Disodorkan dua pilihan yang berat bagiku.

Setelah aku bertahan sekian lama, bertahan untuk meraih apa yang ku harapkan. Bertahan untuk mewujudkan semua doa-doa dan impianku.

Ya, mungkin ini jawaban dari Allah atas doa-doa ku selama ini. Doa-doa dari seorang hamba sepertiku. Doa-doa dari seorang hamba yang lebih banyak mengeluh, yang tanpa ia sadari betapa banyak nikmat yang diberikan Allah kepadanya.

Aku harus melepas semua. Ya, semua kenangan, harapan, dan cita-cita ku disini. Mengubur semua itu yang telah menjadi bagian dari cerita hidupku. Padahal aku sedang menikmatinya. Menikmati kenyamanan yang belum tentu aku dapatkan di tempat lain. 

Namun untuk bertahan pun aku tak sanggup. 

keputusan Allah mungkin tak pernah sama dengan keinginan kita, tapi keputusan Allah adalah keputusan yang paling baik”

Mengambil tawaran itu butuh banyak pertimbangan untukku. Karena akan ada tantangan dan tanggung jawab yang lebih besar tentunya.

Mampukah aku?
Sanggupkah aku?
Kuatkah aku?

Tawaran ini benar-benar nyata untukku.
Kesempatan tidak akan datang 2 kali.
aku butuh istikharah, doakan aku yang terbaik.

***

Hari-hari berlalu. Sepertinya aku sudah mendapatkan sinyal.
Walaupun sebenarnya aku pun belum mantap.

ya, kini tiba saatnya. Saat semua jelas terbaca. Jelas dan nyata. Saat aku mulai dihantui oleh rasa takut. Rasa takut akan salahku. Takut jika aku salah mengambil keputusan. Entah. Aku merasa sudah bisa menarik kesimpulan. Bahwa kenyataan tak sesuai harapan. Tapi aku belum bisa mengambil kesimpulan. Benahkah saya? Salahkah saya?

Memang betul perlu banyak beradaptasi. Toh baru meninggalkan garis start, belum melihat garis finish, masa mau pesimis?Tapi aku terlalu sering meragukan diriku sendiri. Gak bagus memang seperti ini. But...

Aku hanya takut jika kehadiranku disini hanya menjadi parasit. Ga bermanfaat. Aku takut. Takut mengecewakan. Bukan hanya diriku, tapi orang lain. Dia dan mereka. Aku takut akan pandangan orang lain terhadapku. Kalau sudah begini, aku bisa apa? Kepada siapa lagi aku bisa menceritakan ini? Kembali aku gak bisa, maju pun aku ragu. Berada di tempat ini, yang membuatku kini menjadi diam. Bungkam. Seribu bahasa. Karena aku terlalu berharap lebih. Posisi yang sulit. Dan aku mulai lemah. Ini bukan diriku.

Aku mau belajar. Dan terus belajar. Sangat sangat ingin belajar. Ini membuatku yakin. Akan pentingnya menaruh kepercayaan pada hatiku. Semuanya harus tetap berjalan. Dan ku yakin aku kuat. Aku bisa. Aku mampu. Menaruh harapan pada apa yang bisa kukerjakan, kulakukan, kurasakan, kuikhlaskan, kuimpikan, kunantikan...

Selasa, 01 April 2014

Esok Kan Bahagia

Kesedihan hari ini
Bisa saja jadi bahagia esok hari
Walau kadang kenyataan
Tak selalu seperti apa yang diinginkan

Kan ku ikhlaskan segalanya
Keyakinkan ini membuatku bertahan

Hidup yang ku jalani, masalah yang ku hadapi
Semua yang terjadi pasti ada hikmahnya

Walau kadang kenyataan
Tak selalu seperti apa yang diinginkan

Kan ku serahkan semuanya
Keyakinan pada-Nya menjadikanku tenang

Hidup yang ku jalani, masalah yang ku hadapi
Semua yang terjadi pasti ada hikmahnya (pasti ada hikmahnya)
Ku kan terus berjuang, ku kan terus bermimpi
Tuk hidup yang lebih baik, tuk hidup yang lebih indah (lebih indah)

Harus yakin (harus yakin)
Pasti bisa (pasti bisa)

Hidup yang ku jalani, masalah yang ku hadapi
Semua yang terjadi pasti ada hikmahnya (pasti ada hikmahnya)
Ku kan terus berjuang, ku kan terus bermimpi
Tuk hidup yang lebih baik, tuk hidup yang lebih indah (lebih indah)

Ku kan terus berjuang, ku kan terus bermimpi
Tuk hidup yang lebih baik, tuk hidup yang lebih indah
Tuk hidup yang lebih baik, tuk hidup yang lebih indah
(hidup yang lebih indah)