Sekarang aku
sedang menghadapi masalah seperti anak ABG pada umumnya, yaitu GALAU.
Aku tidak
pernah membayangkan sebelumnya ini terjadi. Ya, terjadi padaku.
Disodorkan
dua pilihan yang berat bagiku.
Setelah aku
bertahan sekian lama, bertahan untuk meraih apa yang ku harapkan. Bertahan
untuk mewujudkan semua doa-doa dan impianku.
Ya, mungkin
ini jawaban dari Allah atas doa-doa ku selama ini. Doa-doa dari seorang hamba
sepertiku. Doa-doa dari seorang hamba yang lebih banyak mengeluh, yang tanpa ia
sadari betapa banyak nikmat yang diberikan Allah kepadanya.
Aku harus melepas semua. Ya, semua kenangan, harapan, dan
cita-cita ku disini. Mengubur semua itu yang telah menjadi bagian dari cerita hidupku.
Padahal aku sedang menikmatinya. Menikmati kenyamanan yang belum tentu aku
dapatkan di tempat lain.
Namun untuk bertahan pun aku tak sanggup.
“keputusan Allah
mungkin tak pernah sama dengan keinginan kita, tapi keputusan Allah adalah
keputusan yang paling baik”
Mengambil
tawaran itu butuh banyak pertimbangan untukku. Karena akan ada tantangan dan
tanggung jawab yang lebih besar tentunya.
Mampukah
aku?
Sanggupkah aku?
Kuatkah aku?
Tawaran ini
benar-benar nyata untukku.
Kesempatan
tidak akan datang 2 kali.
aku butuh
istikharah, doakan aku yang terbaik.
***
Hari-hari
berlalu. Sepertinya aku sudah mendapatkan sinyal.
Walaupun sebenarnya aku pun belum mantap.
ya, kini tiba saatnya. Saat semua jelas terbaca. Jelas dan nyata. Saat aku mulai dihantui oleh rasa takut. Rasa takut akan salahku. Takut jika aku salah mengambil keputusan. Entah. Aku merasa sudah bisa menarik kesimpulan. Bahwa kenyataan tak sesuai harapan. Tapi aku belum bisa mengambil kesimpulan. Benahkah saya? Salahkah saya?
Memang betul perlu banyak beradaptasi. Toh baru meninggalkan garis start, belum melihat garis finish, masa mau pesimis?Tapi aku terlalu sering meragukan diriku sendiri. Gak bagus memang seperti ini. But...
Aku hanya takut jika kehadiranku disini hanya menjadi parasit. Ga bermanfaat. Aku takut. Takut mengecewakan. Bukan hanya diriku, tapi orang lain. Dia dan mereka. Aku takut akan pandangan orang lain terhadapku. Kalau sudah begini, aku bisa apa? Kepada siapa lagi aku bisa menceritakan ini? Kembali aku gak bisa, maju pun aku ragu. Berada di tempat ini, yang membuatku kini menjadi diam. Bungkam. Seribu bahasa. Karena aku terlalu berharap lebih. Posisi yang sulit. Dan aku mulai lemah. Ini bukan diriku.
Aku mau belajar. Dan terus belajar. Sangat sangat ingin belajar. Ini membuatku yakin. Akan pentingnya menaruh kepercayaan pada hatiku. Semuanya harus tetap berjalan. Dan ku yakin aku kuat. Aku bisa. Aku mampu. Menaruh harapan pada apa yang bisa kukerjakan, kulakukan, kurasakan, kuikhlaskan, kuimpikan, kunantikan...
ya, kini tiba saatnya. Saat semua jelas terbaca. Jelas dan nyata. Saat aku mulai dihantui oleh rasa takut. Rasa takut akan salahku. Takut jika aku salah mengambil keputusan. Entah. Aku merasa sudah bisa menarik kesimpulan. Bahwa kenyataan tak sesuai harapan. Tapi aku belum bisa mengambil kesimpulan. Benahkah saya? Salahkah saya?
Memang betul perlu banyak beradaptasi. Toh baru meninggalkan garis start, belum melihat garis finish, masa mau pesimis?Tapi aku terlalu sering meragukan diriku sendiri. Gak bagus memang seperti ini. But...
Aku hanya takut jika kehadiranku disini hanya menjadi parasit. Ga bermanfaat. Aku takut. Takut mengecewakan. Bukan hanya diriku, tapi orang lain. Dia dan mereka. Aku takut akan pandangan orang lain terhadapku. Kalau sudah begini, aku bisa apa? Kepada siapa lagi aku bisa menceritakan ini? Kembali aku gak bisa, maju pun aku ragu. Berada di tempat ini, yang membuatku kini menjadi diam. Bungkam. Seribu bahasa. Karena aku terlalu berharap lebih. Posisi yang sulit. Dan aku mulai lemah. Ini bukan diriku.
Aku mau belajar. Dan terus belajar. Sangat sangat ingin belajar. Ini membuatku yakin. Akan pentingnya menaruh kepercayaan pada hatiku. Semuanya harus tetap berjalan. Dan ku yakin aku kuat. Aku bisa. Aku mampu. Menaruh harapan pada apa yang bisa kukerjakan, kulakukan, kurasakan, kuikhlaskan, kuimpikan, kunantikan...
Inget "Kakek, Cucu, dan Keledai"
BalasHapusBetapa banyak kita hidup dalam dunia omongan orang lain. Kita sudah tidak menjadi diri kita sendiri. Kehidupan kita merupakan kehidupan yang dibentuk oleh orang lain. Kita tidak memiliki kuasa atas diri kita sendiri. Bahkan ironisnya keputusan-keputusan yang kita buat bukan lagi keputusan kita sendiri tetapi keputusan orang lain yang mengatasnamakan diri kita. Saya pernah membaca bahwa orang-orang besar yang telah mampu membuat perubahan besar dalam kehidupan mereka karena mereka bernani membuat keputusan atas nama dirinya sendiri dan siap dengan segala resiko yang akan diterimanya.
Satu hal yang dapat menjadi inspirasi bahwa, kehidupan ini hanya berjalan sekali, berlaku sekali pakai, tidak bisa diulang kembali atau diisi ulang kembali jika masa tenggangnya telah berakhir. Karena ia berjalan sekali, maka sudah selayaknya kita memikirkan kembali kehidupan kita agar berjalan sesuai dengan kehendak kita, sehingga suatu saat kita tidak akan pernah menyesal dan menyalahkan orang lain atas kehidupan yang kita jalani. Bahagianya adalah jika kita berhasil meraih kesuksesan dalam kehidupan ini, semuanya merupakan hasil dari keputusan kita. Dan jika pun gagal, itu juga kesalahan kita bukan orang lain.
Jadilah diri sendiri bukan dengan menjadi orang lain. Hiduplah dalam kehidupan sendiri bukan kehidupan orang lain. Buatlah keputusan Anda sendiri jangan biarkan orang lain memutuskan kehidupan Anda. Pilihlah kehidupan Anda jangan biarkan orang lain memilihkan kehidupan seperti apa yang harus Anda jalani. Hanya Anda yang tahu diri dan kehidupan Anda, bukan orang lain. Jika memang demikian, kenapa harus membiarkan orang lain mengatur kehidupan Anda. Anda punya kuasa atas diri Anda, maka jadilah raja bagi diri Anda sendiri.
Salam Rruarr Biasa
^_^ LUAARR BIASAAAA!!!
BalasHapus